<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Piwulang Ndoro Kakung</title>
	<atom:link href="http://ndorokakung.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com</link>
	<description>tentang blog dan teman-temannya</description>
	<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 03:56:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Jangan Komentar di Blog Saya</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/07/23/jangan-komentar-di-blog-saya/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/07/23/jangan-komentar-di-blog-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 03:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[comment]]></category>

		<category><![CDATA[communicate]]></category>

		<category><![CDATA[conversation]]></category>

		<category><![CDATA[idea]]></category>

		<category><![CDATA[network]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa? Apa salahnya? Bukankah imbauan itu terdengar sangat jumawa? Pongah. Kemaki. Mentang-mentang seleb. Apakah ini semacam ledekan untuk belasan ribuan blogger lain yang merasa dirinya sebagai &#8220;fakir komen&#8221;, juga mereka yang terpaksa harus meminta-minta blogger lain berkomentar di blognya?
Ho-ho-ho &#8230; saya bukan sedang berlagak, jual mahal, atau bercanda, Ki Sanak. Jangan komentar di blog saya [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Jangan Komentar di Blog Saya", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/07/23/jangan-komentar-di-blog-saya/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa? Apa salahnya? Bukankah imbauan itu terdengar sangat jumawa? Pongah. <em>Kemaki</em>. Mentang-mentang seleb. Apakah ini semacam ledekan untuk belasan ribuan <em>blogger</em> lain yang merasa dirinya sebagai &#8220;fakir komen&#8221;, juga mereka yang terpaksa harus meminta-minta <em>blogger</em> lain berkomentar di blognya?</p>
<p>Ho-ho-ho &#8230; saya bukan sedang berlagak, jual mahal, atau bercanda, Ki Sanak. Jangan komentar di blog saya itu saran  <a href="http://www.chrisg.com/10-reasons-commenting-is-good-for-bloggers/">Chris Garrett</a>, blogger dan konsultan <em>Internet marketing</em> dari negara tetangga jauh. Tentu saja dia punya alasan mengapa sampai mengeluarkan pernyataan seperti itu. Dan, saya menganggapnya perlu disampaikan ke sampean semua. Mengapa?</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<p>Kita tahu bahwa saling mengunjungi dan berkomentar itu adalah adab pergaulan yang baik di antara sesama blogger. Meninggalkan jejak dalam bentuk komentar itu cara para blogger menjalin tali silaturahmi. Berkomentar itu semacam aturan main baku, cara kita menghargai orang lain. Berikan komentar agar blogger lain berkomentar balik.</p>
<p>Dengan berkomentar di blog orang, sampean telah membuka pintu perkawanan. Jaringan baru terbuka lewat pertautan alamat blog (url). Banyak-banyaklah membuka jaringan dan membentuk persahabatan baru di ranah blog. </p>
<p>Komentar sampean di blog seseorang akan menjadi semacam papan pengumuman tentang siapa dan di mana alamat blog sampean. <em>Blogger</em> lain akan tergoda mengklik tautan bila menemukan sosok <em>blogger</em> baru di kolom komentar. Lantas dia akan membuka blog sampean. Barangkali terjadi kecocokan pendapat. Mungkin malah perbedaan. Apa pun, salam pembuka perkenalan telah terjadi. Selanjutnya, biarkan mekanisme jaringan sosial yang alamiah terbentuk dengan sendirinya.</p>
<p>Jangan lupa, memberi komentar itu juga melatih otak kita berpikir. Sampean akan terlatih membaca, merenungkan, meresapkan, pendapat orang lain, lalu memberi respons. Dengan mempelajari banyaknya komentar yang masuk, sampean akan tahu jenis posting seperti apa yang disukai dan membetot perhatian <em>blogger</em>, juga yang diemohi pengunjung.</p>
<p>Dari komentar seseorang kita bahkan bisa mendapatkan ide <em>posting</em> baru. Komentar orang besar kemungkinan membuat sampean mengembangkan tulisan baru, dengan sudut pandang berbeda.</p>
<p>Kita tak pernah tahu siapa saja pengunjung dan pembaca blog kita. Sampean mungkin bakal terkaget-kaget kalau teka-teki tentang siapa mereka terkuak. Saya, misalnya, tak pernah menyangka punya pembaca setia blog dari kalangan Departemen Luar Negeri dan Istana Negara. Mereka tahu blog saya dari komentar yang pernah saya tinggalkan di sebuah blog. Karena itu, sampean juga jangan sungkan berkomentar di blog orang lain. Percayalah, begitu sampean berkomentar, sebagian besar <em>blogger</em> akan balik mengunjungi dan berkomentar.</p>
<p>Berlatihlah menulis &#8212; bukan hanya posting di blog sampean sendiri &#8212; komentar di blog orang lain. Komentar sebaiknya ringkas, padat, dan cergas, sehingga mencuri perhatian pemilik blog maupun <em>blogger </em>lain yang membacanya. </p>
<p>Tapi, nah ini bagian yang paling penting, jangan hanya berkomentar di blog yang sama terus. Janganlah sampean bergaul di kerumunan sosial yang itu-itu saja. Luaskan cakrawala pergaulan sampean ke delapan penjuru angin. </p>
<p>Sebisa mungkin, berikanlah komentar sampean ke blog-blog yang belum pernah sampean kunjungi sebelumnya. Bergaullah ke berbagai komunitas. Keluarlah dari zona nyaman. Jangan hanya melihat dan berkomentar di blog saya. Di luar sana, saya percaya ada ribuan blog lain yang jauh lebih bagus dan <em>inspiring</em>.</p>
<p>Dengan cara ini, sampean bukan hanya akan mendapatkan sesuatu yang segar, melainkan juga membentuk jaringan baru. Semakin sering sampean menjelajah blog-blog baru, ke wilayah yang belum pernah sampean datangi, kemungkinan besar sampean juga akan mendapatkan ide, pendapat, teman, juga kerumunan sosial baru. Sampean bakal beroleh sudut pandang, cakrawala, juga pencerahan yang berbeda.</p>
<p>Pada akhirnya, menurut saya, ngeblog itu bukan hanya percakapan dengan diri sendiri, tempat membuang sampah pribadi. Blog itu ruang komunikasi dan interaksi. Jadi bermainlah ke mana-mana, sejauh-jauhnya, untuk bercakap-cakap dengan banyak blogger. </p>
<p>Tapi, jangan lupa ke sini lagi ya kalau sampean kangen saya, hihihi &#8230;</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Jangan+Komentar+di+Blog+Saya&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F07%2F23%2Fjangan-komentar-di-blog-saya%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/07/23/jangan-komentar-di-blog-saya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Foto? Kenapa tidak?</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/06/29/blog-foto-kenapa-tidak/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/06/29/blog-foto-kenapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 16:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[foto]]></category>

		<category><![CDATA[kamera]]></category>

		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[potret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/06/29/blog-foto-kenapa-tidak/</guid>
		<description><![CDATA[Oke, sampean belum punya blog, dan ingin membuatnya. Tapi, sampean merasa ndak bisa menulis. Ndak masalah. Sampean bisa memotret, kan? Nah, kenapa tak mencoba membuat sebuah blog atawa photoblog?
&#8220;Loh, memangnya bisa? Kamera saya kacangan, bukan kamera DSLR yang canggih itu.&#8221;
&#8220;Kenapa tidak?&#8221;
Sampean tentu saja malah sangat dianjurkan membuat blog foto, terutama kalau sampean seorang fotografer serius, [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Blog Foto? Kenapa tidak?", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/06/29/blog-foto-kenapa-tidak/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oke, sampean belum punya blog, dan ingin membuatnya. Tapi, sampean merasa ndak bisa menulis. Ndak masalah. Sampean bisa memotret, kan? Nah, kenapa tak mencoba membuat sebuah blog atawa <em>photoblog</em>?</p>
<p>&#8220;Loh, memangnya bisa? Kamera saya kacangan, bukan kamera DSLR yang canggih itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak?&#8221;</p>
<p>Sampean tentu saja malah sangat dianjurkan membuat blog foto, terutama kalau sampean seorang fotografer serius, eh &#8230; fotografer abal-abal juga boleh kok. Alat, kamera, itu nomor sekian. Yang penting, siapa pengambil gambarnya.</p>
<p>Berikut ini ada beberapa alasan, sampean boleh menambahkan sendiri, mengapa sampean perlu membuat blog foto: <span id="more-23"></span></p>
<p><b>1. Untuk memotivasi diri</b><br />
Saya percaya bahwa salah satu cara untuk membuat sampean menjadi fotografer yang terampil dan piawai adalah dengan terus berlatih memotret, dan memotret. Nah, sebuah blog foto akan memacu motivasi sampean. Caranya? Pertama, agar blog sampean itu didatangi pengunjug terus, sampean harus mengisinya sesering mungkin. Ini berarti sampean juga harus berkarya, memotret, sesering mungkin demi posting baru. Kedua, begitu foto-foto sampean tayang di blog, sampean akan merasa terpacu untuk berkarya lebih baik, dan lebih baik. Sampean tentu ndak akan puas dengan kualitas dan mutu posting pertama. Ketika membuat posting berikutnya, sampean akan merasa harus membuat karya yang lebih bagus. Dengan kata lain, tanpa sadar sampean telah termotivasi.</p>
<p><b>2. Rapor perkembangan</b><br />
Blog merupakan cara yang fantastik untuk melacak kemajuan sampean di bidang fotografi. Dari halaman arsip, sampean bisa melihat perkembangan foto-foto karya sampean. Sampean akan bisa melihat apakah kemampuan dan keterampilan sampean semakin maju atau mundur. Dengan melihat rekam jejam karya ini, sampean bisa mengukur sejauh mana perkembangan karya sampean.</p>
<p><b>3. Respons</b><br />
Blog foto juga merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan umpan balik. Jika sampean berniat serius menjadi fotografer profesional, sampean bisa menanyakan komentar para pengunjung terhadap karya sampean. Dengarkan pendapat, kritikan, dan semua masukan pengunjung. Komentar mereka akan membuat sampean terdorong membuat karya yang lebih bagus, dan lebih baik lagi. Dan, keterampilan sampean pun makin terasah. Siapakan saja hati yang lebar agar sampean tak perlu sakit hati bila ada pengunjung yang tak suka, lalu mencaci karya sampean. Jangan khawatir. Langit ndak akan runtuh kalau foto sampean jelek.</p>
<p><b>4. Pemasaran</b><br />
Blog itu sarana menjual nama dan reputasi. Ia menjadi semacam ruang pamer, portofolio, sampean. Pasarkan karya sampean. Juallah kemampuan sampean dalam bidang fotografi melalui blog. Tak ada cara lain untuk membuat nama sampean kondang di delapan penjuru angin, kecuali sampean punya blog.</p>
<p><b>5. Publisitas</b><br />
Publisitas itu lebih dari sekadar pemasaran, lebih dari sekadar memperkenalkan nama sampean.  Fotografer berduit bisa saja memasang iklan di majalah atau televisi untuk memperkenalkan namanya. Sampean cukup punya blog, dan publikasi datang sendiri. Begitu sampean rutin membuat posting baru, pengunjung yang terpesona akan mengajak orang lain untuk melihat blog sampean. Begitu seterusnya. Hingga suatu hari nanti, sampean bahkan tak sadar bahwa blog foto sampean ternyata terkenal di mana-mana, tanpa sampean mengeluarkan banyak uang.</p>
<p><b>6. Relasi</b><br />
Blog merupakan salah satu cara yang bagus untuk membangun hubungan personal dengan klien potensial. Mereka bukan hanya mendapatkan kesempatan mengintip karya-karya sampean secara rutin, melainkan juga mengenal sampean lewat teks-teks yang terlampir pada sebuah foto. Jika suatu saat mereka membutuhkan seorang fotografer, mereka tahu ke mana harus menghubungi sampean. Blog sampean dan calon-calon klien itu &#8212; tanpa keduanya saling menyadari &#8212; telah membentuk ikatan emosional yang erat &#8212; sesuatu yang mungkin tak pernah sampean bayangkan sebelumnya.</p>
<p><b>7. Jaringan</b><br />
Blog juga sarana yang baik untuk membangun jaringan sosial di antara para fotografer. Para fotografer yang memiliki blog akan saling menautkan alamat blognya hingga membentuk sebuah jaringan. Jaringan ini sangat bermanfaat untuk publikasi, kampanye, promosi, dan sebagainya. Peluang order pun menjadi tak terbatas. </p>
<p><b>8. Mengasyikkan</b><br />
Nge-blog itu benar-benar mengasyikan. Sampean tinggal jalan-jalan, memotret, lalu mempublikasikannya di blog. Pengunjung akan datang sendiri untuk menikmati karya sampean. Kalau berkenan, mereka tentu akan meninggalkan komentar. Dan hidup sampean niscaya akan segera berubah. </p>
<p>Jadi kenapa masih ragu-ragu. Segeralah ambil kamera, potretlah sesuatu, lalu tampilkan di blog foto. Saya tunggu ya &#8230;</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Blog+Foto%3F+Kenapa+tidak%3F&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F06%2F29%2Fblog-foto-kenapa-tidak%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/06/29/blog-foto-kenapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa blog saya kehilangan pembaca</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/19/mengapa-blog-saya-kehilangan-pembaca/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/19/mengapa-blog-saya-kehilangan-pembaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 18:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[10]]></category>

		<category><![CDATA[amatir]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[content]]></category>

		<category><![CDATA[kelemahan]]></category>

		<category><![CDATA[monetizing]]></category>

		<category><![CDATA[profesional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Seorang kawan yang sudah agak lama ngeblog tiba-tiba merasa penasaran setengah mati. Blognya menunjukkan tanda-tanda ditinggal pembaca. Statistik dan lalu lintas blognya menurun terus.
Teman saya itu pantas gundah karena sejak awal dia memang berniat serius menjadikan blognya sebagai lahan mencari uang. Tanpa pengunjung setia, blognya tiadalah berarti apa-apa.
&#8220;Kenapa ya, Mas?&#8221; begitu tanya dia ketika bertemu [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Mengapa blog saya kehilangan pembaca", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/19/mengapa-blog-saya-kehilangan-pembaca/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang kawan yang sudah agak lama ngeblog tiba-tiba merasa penasaran setengah mati. Blognya menunjukkan tanda-tanda ditinggal pembaca. Statistik dan lalu lintas blognya menurun terus.</p>
<p>Teman saya itu pantas gundah karena sejak awal dia memang berniat serius menjadikan blognya sebagai lahan mencari uang. Tanpa pengunjung setia, blognya tiadalah berarti apa-apa.</p>
<p>&#8220;Kenapa ya, Mas?&#8221; begitu tanya dia ketika bertemu saya.</p>
<p>&#8220;Lah ya ndak tahu. Sampean memangnya ngapain aja di blog?&#8221; saya balik bertanya.</p>
<p>&#8220;Ya ndak ngapa-ngapain, Mas.&#8221; jawabnya.</p>
<p>Oh, pantes. Kalau ndak ngapa-ngapain, kecuali membuat posting, ya jangan berharap blog sampean akan didatangi pengunjung. <span id="more-20"></span></p>
<p>Begini, Ki Sanak. Kalau saya lihat ya, blog-blog yang cuma menuh-menuhin blogosphere dan seperti lintang kemukus &#8212; sekali bersinar terang dan sesudah itu redup &#8212;  biasanya punya kesamaan. Mereka minimal punya 10 kelemahan. Apa itu?</p>
<ol>
<li> Maksud dan tujuan blog tak jelas.</li>
<li> Blognya kurang fokus pada pembaca.</li>
<li>Isi blog kurang nyambung dengan tema blog.</li>
<li>Strategi pemasarannya payah.</li>
<li>Salah pilih tema.</li>
<li>Jarang diperbarui.</li>
<li>Kurang komitmen.</li>
<li>Tak bereaksi terhadap apa pun.</li>
<li>Memakai strategi <em>monetizing</em> yang kurang efektif.</li>
<li>Desain blog yang memusingkan.</li>
</ol>
<p>Agar sebuah blog sukses, dalam ukuran apa pun, seorang blogger harus menjaga blognya tetap fokus pada kebutuhan pembaca setia. </p>
<p>Kalau biasanya bikin posting tentang resep masakan, ya sebaiknya tetap menulis soal menu santapan. Jangan tiba-tiba berubah haluan dan melulu membuat tulisan tentang mobil. </p>
<p>Para pembaca yang sudah biasa datang untuk mencari resep memasak bisa jadi kapok dan lama-lama ndak mau datang lagi. Padahal tanpa pembaca setia, blog itu tiada artinya.</p>
<p>Membuat dan merawat blog sekehendak hati kita memang mudah, tapi pendapat dan harapan pembaca juga penting demi kelangsungan sebuah blog. <em>Traffic</em> jelas ibarat darah segar, terutama bagi para blogger profesional yang hendak mendulang rupiah dan dolar lewat blog.</p>
<p>Ceritanya tentu saja lain kalau sampean cuma hendak iseng-iseng dengan blog. Dan blog bukan sarana mencari uang, melainkan menyalurkan kebutuhan pribadi: buang uneg-uneg, menyalurkan hasrat menulis, mencari teman, dan sebagainya. Buat kalangan yang seperti ini sih, kiatnya lain lagi.</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Mengapa+blog+saya+kehilangan+pembaca&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F05%2F19%2Fmengapa-blog-saya-kehilangan-pembaca%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/19/mengapa-blog-saya-kehilangan-pembaca/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Posting saya kok nggak dikomentari?</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/04/posting-saya-kok-nggak-dikomentari/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/04/posting-saya-kok-nggak-dikomentari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 15:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[digg]]></category>

		<category><![CDATA[friendfeed]]></category>

		<category><![CDATA[gagasan]]></category>

		<category><![CDATA[inspiring]]></category>

		<category><![CDATA[komentar]]></category>

		<category><![CDATA[mixx]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/04/blog-saya-kok-nggak-dikomentari/</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan begini, Ki Sanak. Sampean sudah capek-capek menulis sesuatu, lalu menayangkannya di blog. Kemudian seseorang mengirimkan tautan posting itu ke situs pertukaran tautan seperti Digg, StumbleUpon, dan FriendFeed.
Tanpa dinyana, arak-arakan pengunjung berdatangan dan mengomentari posting itu, bukan di blog sampean, melainkan yang ditaruh di Digg, Mixx, atau FriendFeed itu. Sedangkan di blog sampean sendiri, posting [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Posting saya kok nggak dikomentari?", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/04/posting-saya-kok-nggak-dikomentari/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan begini, Ki Sanak. Sampean sudah capek-capek menulis sesuatu, lalu menayangkannya di blog. Kemudian seseorang mengirimkan tautan posting itu ke situs pertukaran tautan seperti Digg, StumbleUpon, dan FriendFeed.</p>
<p>Tanpa dinyana, arak-arakan pengunjung berdatangan dan mengomentari posting itu, bukan di blog sampean, melainkan yang ditaruh di Digg, Mixx, atau FriendFeed itu. Sedangkan di blog sampean sendiri, posting itu tak ada yang mengomentari barang satu patah kata pun.</p>
<p>Bagaimana rasanya? Sakit hati? Cuek? Bagaimana pula rasanya jika sampean menjadi pembaca yang melihat kejadian seperti itu? <span id="more-18"></span></p>
<p>Saya maklum dan memahami jika sampean kesal hati. Kolom komentar memang bagian yang menyenangkan dari aktivitas ngeblog. Komentar pembaca, misalnya, bisa membuat seorang blogger terpacu menulis lagi. Komentar kadang juga menghibur pembaca lain, dan akan membuatnya datang lagi.</p>
<p>Blog yang miskin komentar bisa diartikan juga miskin pengunjung. Orang bisa salah mengira blog sampean tak populer hanya karena memiliki sedikit komentar.</p>
<p>Jangan sedih, Ki Sanak. Lihatlah dari perspektif lain. Saya dulu juga pernah begitu, sedih kalau posting saya tak ada yang mengomentari, sampai suatu hari saya bertemu seorang kawan yang arif bijaksana.</p>
<p>Menurut dia, blog yang bagus tak selalu panen komentar. Blog yang bagus itu yang isinya membuat orang tergugah, memberi inspirasi, membuat orang berpikir, dan seterusnya.</p>
<p>Tapi, pemilik blog tak perlu memaksa pengunjung memberi komentar di bawah setiap posting. Komentar itu tak harus diterakan pada sebuah posting. Sebuah posting yang bagus, dan memicu kontroversi, kadang justru tak perlu diberi komentar.</p>
<p>&#8220;Loh kenapa?&#8221; tanya saya waktu itu.</p>
<p>&#8220;Sampean pernah menonton film di bioskop kan? Apa yang sampean lakukan bila filmnya bagus? Sibuk berkomentar ketika film tengah diputar atau melakukan diskusi setelah sampean pulang dan bertemu kawan-kawan?</p>
<p>Kecuali sampean mau dimaki tetangga duduk di sebelah, sampean pasti baru membicarakan film yang bagus setelah keluar dari bioskop. Saya yakin sampean juga tak mengoceh sendiri ketika film masih berlangsung,&#8221; jawab kawan saya.</p>
<p>Begitu juga dengan blog. Sebuah posting yang bagus, yang bisa menginspirasi orang &#8212;  menurut hemat saya &#8212; justru tak perlu dikomentari langsung di bagian bawahnya. Lebih baik kita membiarkan orang bertanya-tanya dan membicarakan posting itu di luar blog tanpa perlu meninggalkan komentar.</p>
<p>Makin banyak orang membahasnya di kafe, di sekolah, di tempat kerja, di kantor, di lapangan, juga tempat-tempat lain, berarti sebetulnya popularitas dan pengaruh posting itu sangat dahsyat.</p>
<p>Jadi sampean jangan terlalu sedih kalau postingnya sepi komentar, Ki Sanak! Ingat saja pengandaian tentang film yang bagus di bioskop itu.</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Posting+saya+kok+nggak+dikomentari%3F&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F05%2F04%2Fposting-saya-kok-nggak-dikomentari%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/05/04/posting-saya-kok-nggak-dikomentari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa blog saya seperti kuburan?</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/18/mengapa-blog-saya-seperti-kuburan/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/18/mengapa-blog-saya-seperti-kuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 06:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[content]]></category>

		<category><![CDATA[creative]]></category>

		<category><![CDATA[frustrasi]]></category>

		<category><![CDATA[handphone]]></category>

		<category><![CDATA[patient]]></category>

		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/18/mengapa-blog-saya-seperti-kuburan/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah ngeblog selama empat bulan, tapi kenapa blog saya masih sepi, seperti kuburan? Mengapa pengunjung tak segera datang berbondong-bondong? Saya sudah tak sabar, Mas. Apakah lebih baik saya berhenti ngeblog saja?
Begitulah pertanyaan yang sering saya terima dari para blogger pemula. Wajah mereka menunjukkan keputusasaan. Frustrasi.
Tentu saja mereka tak sendirian. Saya dulu juga pernah mengalaminya. [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Mengapa blog saya seperti kuburan?", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/18/mengapa-blog-saya-seperti-kuburan/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah ngeblog selama empat bulan, tapi kenapa blog saya masih sepi, seperti kuburan? Mengapa pengunjung tak segera datang berbondong-bondong? Saya sudah tak sabar, Mas. Apakah lebih baik saya berhenti ngeblog saja?</p>
<p>Begitulah pertanyaan yang sering saya terima dari para blogger pemula. Wajah mereka menunjukkan keputusasaan. Frustrasi.</p>
<p>Tentu saja mereka tak sendirian. Saya dulu juga pernah mengalaminya. Tapi, apakah saya menyerah? <span id="more-17"></span></p>
<p>Tidak. Ngeblog itu ibarat sebuah lari marathon. Kita tak perlu segera mencapai finis dalam sekejap. Ngeblog itu sebuah perjalanan yang panjang, dan hasilnya tak selalu segera terlihat. Dibutuhkan konsistensi dan kesabaran.</p>
<p>Saya maklum tak semua orang memiliki energi dan kesabaran yang segudang, seperti saya. Sampean mungkin juga sering merasakannya. Sudah berbulan-bulan ngeblog, tapi tak ada satu pun pengunjung yang datang berkunjung. Sudah beraksi sedemikian rupa, mengakali mesin pencari, tapi duit tak kunjung menggelontor. Sampean jadi merasa seperti anak tiri yang kurang perhatian.</p>
<p>Haruskah berhenti ngeblog sekarang? Jujur saja, menurut saya, berhenti ngeblog setelah beberapa bulan memulainya adalah sebuah kesalahan. Mengapa?</p>
<p>Hanya ada dua alasan bagus untuk menutup sebuah blog. Pertama, bila sampean secara sadar memutuskan hendak membuat blog baru dengan fokus berbeda. Ini karena sampean merasa blog yang lama kurang fokus sehingga kurang menarik minat orang.</p>
<p>Membuat blog dengan tema yang lain merupakan keputusan yang baik dan benar. Blog dengan tema khusus sering kali memang lebih berpotensi dicari orang. Misalnya blog tentang handphone. Blog semacam ini kemungkinan besar akan dicari orang seiring makin popularnya penggunaan telepon selular.</p>
<p>Alasan kedua adalah jika blog sampean memang sudah menemui jalan buntu. Seandainya setelah beberapa bulan ngeblog, sampean masih tetap sulit meraih perhatian pembaca, kini saatnya sampean mengevaluasi blog itu. Sudahkan sampean membuat blog yang unik? Apakah posting sampean cukup kreatif? Apakah sampean sudah mempromosikan blog itu secara ekspansif?</p>
<p>Bila belum, cobalah sekali lagi. Mungkin sampean perlu membuat blog dengan tema yang khas, yang belum dibuat orang. Barangkali sampean perlu membuat posting-posting yag lebih menarik, dengan foto-foto yang lucu misalnya. Mungkin juga sampean harus lebih rajin bertandang ke blog orang lain dan memperkenalkan blog sampean. Kuncinya, promosi, promosi, dan promosi.</p>
<p>Jadi, daripada menutup dan tak ngeblog lagi, lebih baik sampean bersabar. Berusahalah lebih keras dan lebih kreatif. Setelah itu, tunggu barang sebulan dua bulan.</p>
<p>Jangan khawatir blog sampean masih sedikit pengunjungnya, walaupun sampean sudah mengubahnya. Yang penting, lihat apakah ada kecenderungan traffic-nya naik setelah sampean mengubah blog.</p>
<p>Masa tiga hingga enam bulan pertama memang masa-masa paling sulit. Saya juga pernah mengalaminya. Bedanya, dulu saya pantang menyerah. Saya segera mengubah strategi ngeblog. Saya ubah corak dan gaya setiap posting.</p>
<p>Sesudah itu,  ternyata saya mendapatkan kejutan yang tak pernah terduga. Perlahan tapi pasti, pengunjung mulai berdatangan. Mereka kian banyak bertandang setelah saya juga rajin berkenalan langsung dengan mereka: kopdar.</p>
<p>Sampean juga bisa mencobanya. Yang penting, bersabarlah. Jangan buru-buru berhenti ngeblog. Teguhkan niat dan hati. Selanjutnya, biarkanlah pengunjung yang menentukan.</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Mengapa+blog+saya+seperti+kuburan%3F&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F04%2F18%2Fmengapa-blog-saya-seperti-kuburan%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/18/mengapa-blog-saya-seperti-kuburan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips menulis posting cepat</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/02/tips-menulis-posting-cepat/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/02/tips-menulis-posting-cepat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 10:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[cepat]]></category>

		<category><![CDATA[content]]></category>

		<category><![CDATA[efektif]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/02/tips-menulis-posting-cepat/</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa saya membutuhkan waktu yang lama hanya untuk membuat sebuah posting? Bagaimana sebetulnya menulis dengan efektif, tak buang waktu?
Begitulah pertanyaan yang sering diajukan beberapa blogger yang belum terbiasa menulis, membuat posting. Ini memang pertanyaan yang umum. Bahkan seorang penulis kawakan pun sering kali membutuhkan waktu panjang untuk menulis.
Meski begitu, bukan berarti tiada jalan menyiasatinya. Berikut [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Tips menulis posting cepat", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/02/tips-menulis-posting-cepat/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa saya membutuhkan waktu yang lama hanya untuk membuat sebuah posting? Bagaimana sebetulnya menulis dengan efektif, tak buang waktu?</p>
<p>Begitulah pertanyaan yang sering diajukan beberapa blogger yang belum terbiasa menulis, membuat posting. Ini memang pertanyaan yang umum. Bahkan seorang penulis kawakan pun sering kali membutuhkan waktu panjang untuk menulis.</p>
<p>Meski begitu, bukan berarti tiada jalan menyiasatinya. Berikut ini ada 5 tips menulis cepat: <span id="more-16"></span></p>
<p><strong>1. Tutup aplikasi lain</strong><br />
Ketika hendak menulis, cobalah fokus dan berkonsentrasi. Jangan bukan pelbagai macam aplikasi, kecuali program pengolah kata. Hentikan dulu aktivitas chatting, tutup program Yahoo! Messenger. Menulis sambil berbincang dengan orang lain butuh kemahiran membagi konsentrasi. Lebih baik fokus pada satu hal saja: menulis. Lalu tutup program email. Hentikan dulu kegiatan membaca surat-surat agar pikiran tertuang hanya ke bahan tulisan. Tentu saja masih boleh membuka satu perambah Internet kalau-kalau sampean butuh bahan rujukan tertentu. Tapi, segeralah tutup kembali program itu begitu sampean menemukan yang dicari.</p>
<p><strong>2. Riset</strong><br />
Sebelum menulis, seyogyanya sampean melakukan riset kecil-kecilan untuk mengumpulkan bahan tulisan. Riset akan membantu sampean melengkapi tulisan. Kualitas tulisan akan ditentukan oleh hasil riset tersebut. Dengan melakukan riset, tulisan sampean akan lebih dalam dan kian bermutu.</p>
<p><strong>3. Buatlah jadwal</strong><br />
Penjadwalan akan menghemat waktu menulis. Tentukan waktu yang dibutuhkan untuk setiap bagian tulisan. Sampean, misalnya, sudah menetapkan target waktu 1 jam untuk membuat sebuah tulisan lengkap. Bagilah target waktu itu. Tentukan berapa menit untuk menentukan gambar pelengkapnya, berapa menit untuk riset, membuat judul, dan seterusnya.</p>
<p><strong>4. Baca ulang</strong><br />
Setelah selesai menulis, jangan buru-buru ditayangkan. Sempatkan sejenak untuk membaca ulang. Siapa tahu ada ejaan yang perlu dikoreksi. Penyebutan yang salah. Data yang tak akurat.</p>
<p><strong>5. Suntinglah sampai sampean puas</strong></p>
<p>Begitu tulisan siap tayang, lihatlah sekali lagi. Apakah penempatan gambar pendamping sudah pas? Apakah sampean sudah mencantumkan nama si fotografer sebagai kredit foto yang sampean gunakan? Apakah tulisan itu sudah sesuai dengan tujuan sampean semula? Jika belum, suntinglah lagi. Manfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan pengecekan terakhir.</p>
<p>Menulis posting yang bermutu memang bukan pekerjaan gampang, tapi bila sampean sudah menyiapkan diri dan mengikuti tahap-tahapnya dengan benar, bukan tak mungkin karya sampean akan selalu diingat orang &#8230;</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.dailyblogtips.com/5-steps-to-write-effective-articles-in-less-time/">Daily Blog Tips</a></p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Tips+menulis+posting+cepat&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F04%2F02%2Ftips-menulis-posting-cepat%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/04/02/tips-menulis-posting-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hemat Energi dengan Fokus</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/22/hemat-energi-dengan-fokus/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/22/hemat-energi-dengan-fokus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 10:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[digg]]></category>

		<category><![CDATA[email]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[fokus]]></category>

		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<category><![CDATA[isi]]></category>

		<category><![CDATA[social networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/22/hemat-energi-dengan-fokus/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman yang kian hari semakin tampak tua dan lelah, tiba-tiba mendekati meja saya. Sejenak kemudian, ia bertanya, dengan wajah yang agak murung.
&#8220;Kenapa saya lama-lama merasa lelah menyusuri belantara Internet ya, Mas? Saya jadi bosen nge-blog nih &#8230;&#8221;
Saya kaget ditanya begitu. Karena penasaran, saya pun balik bertanya. &#8220;Lah, memangnya sampai ngapain aja di Internet? Berapa [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Hemat Energi dengan Fokus", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/22/hemat-energi-dengan-fokus/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman yang kian hari semakin tampak tua dan lelah, tiba-tiba mendekati meja saya. Sejenak kemudian, ia bertanya, dengan wajah yang agak murung.</p>
<p>&#8220;Kenapa saya lama-lama merasa lelah menyusuri belantara Internet ya, Mas? Saya jadi bosen nge-blog nih &#8230;&#8221;</p>
<p>Saya kaget ditanya begitu. Karena penasaran, saya pun balik bertanya. &#8220;Lah, memangnya sampai ngapain aja di Internet? Berapa lama sih, biasanya sampean berkelana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah &#8230; nggak pernah ngitung. Bisa hampir seharian, Mas,&#8221; ia menjawab. <span id="more-15"></span></p>
<p>&#8220;Hampir seharian? Ngapain aja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sih, biasanya baca email sekalian membalasnya, lihat-lihat dan nulis di beberapa blog, baca berita-berita, main Facebook, Digg, Friendster, macem-macemlah, Mas &#8230; &#8221;</p>
<p>&#8220;Ya wajarlah kalau begitu. Kalau tiap hari, tiap saat, sampean berkelana begitu lama dengan aneka kegiatan seperti itu, ya membalas email, mengomentari posting blog, main social networkung, dan sebagainya, tentu saja energi sampean terkuras habis. Lama-lama sampean bakal lemas, terus bosan. Itu namanya sampean ndak fokus.</p>
<p>Sampean memang boleh berinteraksi dengan dunia maya (bukan maia lo!). Silakan juga merespons komentar orang di blog sebagai tanda terima kasih dan ikatan tali silaturahmi.</p>
<p>Tapi, ya jangan membalas semua komentar. Sampean ndak bakal sempat, cuma buang energi dan waktu. Gunakan waktu dan kesempatan secara bijaksana. Kalau ada komentar yang tak perlu dibalas komentar juga, ya ngapain repot-repot dijawab?</p>
<p>Jaringan sosial seperti yang ditawarkan oleh Friendster dan Facebook memang penting, tapi pikirkan  waktu sampean yang terbuang untuk aktif di layanan seperti itu. Apakah waktu dan energi yang sampean gunakan sebanding dengan manfaatnya?</p>
<p>Hal-hal yang bersifat &#8220;sementara&#8221; itu pasti bakal segera berlalu dan digantikan yang baru. Lihatlah kenyataan. Dua tahun yang lalu, misalnya, Technorati mencapai puncak kejayaannya dengan tag-tag itu. Lalu muncul Digg. Kemudian, datang Facebook dan Twitter. Satu, dua atau tiga tahun ke depan, pasti akan lahir yang baru lagi.</p>
<p>Semua layanan itu memang bagus untuk bersosialisasi, membangun jaringan, tapi sampean mesti pinter-pinter memilih layanan mana yang, baik dari sisi waktu maupun energi, selaras dengan aktivitas blogging sampean. Apapun pilihannya, sebaiknya membuat blog sampean makin berkembang, dan bukan sebaliknya, menguras energi sampean.</p>
<p>Begitu juga dengan fokus blog sampean. Jika topiknya ndak keruan, sampean membuat posting macam-macam tanpa arah dan alasan kuat &#8212; dari soal sepatu hingga tusuk gigi, dari cerita pendek hingga cerita bersambung &#8212; pengunjung sampean pasti juga berserakan. Mereka kebanyakan bukan pembaca loyal.</p>
<blockquote><p>The more diverse your blog content, the more scattered your energies &#8212; entah kata siapa &#8230;</p></blockquote>
<p>Bila energi sampean mengucur ke mana-mana, yang jadi korban ya blog sampean. Isi blog pun kena imbas. Sampean bakal kehilangan waktu yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk meriset demi tulisan yang bernas dan cergas.</p>
<p>Cobalah menghemat energi dan waktu. Berkelanalah dengan pintar, hanya mencari apa yang sampean butuhkan. Ikuti layanan jaringan sosial itu hanya untuk pengetahuan belaka, dan ndak perlu menggelutinya sampai tuntas, tas!</p>
<p>Blog sampean itu seperti cahaya spotlight di angkasa. Semakin lebar bias sinarnya, semakin sulit orang menemukan asalnya. Sebaliknya, semakin fokus cahayanya, semakin gampang pula orang menemukan jejak ke sumbernya: blog sampean.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu. Baiklah, Mas. Saya akan mencoba lebih fokus. Matur nuwun yo, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sama-sama.&#8221;</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Hemat+Energi+dengan+Fokus&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F02%2F22%2Fhemat-energi-dengan-fokus%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/22/hemat-energi-dengan-fokus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yang penting isi, bukan akal-akalan</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/16/yang-penting-isi-bukan-akal-akalan/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/16/yang-penting-isi-bukan-akal-akalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[google]]></category>

		<category><![CDATA[isi]]></category>

		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/16/yang-penting-isi-bukan-akal-akalan/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai blogger kelas kambing, sudah berkali-kali saya diminta memanfaatkan Google, pertukaran tautan, blogroll, dan aneka macam situs jaringan sosial agar blog saya semakin moncer &#8212; sukses.
Berkali-kali pula saya tak mempedulikan permintaan itu. Sampai yang menyuruh bosan. Dan agak ngambek. Malah ada yang bilang saya ini jual mahal. Padahal kapan saya jualan?
Saya bukan tak paham soal [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Yang penting isi, bukan akal-akalan", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/16/yang-penting-isi-bukan-akal-akalan/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai blogger kelas kambing, sudah berkali-kali saya diminta memanfaatkan Google, pertukaran tautan, blogroll, dan aneka macam situs jaringan sosial agar blog saya semakin moncer &#8212; sukses.</p>
<p>Berkali-kali pula saya tak mempedulikan permintaan itu. Sampai yang menyuruh bosan. Dan agak ngambek. Malah ada yang bilang saya ini jual mahal. Padahal kapan saya jualan?</p>
<p>Saya bukan tak paham soal Google dan penyiasatan mesin pencari. Tapi, buat saya, <del>keberhasilan</del> kunci sukses sebuah blog bukan tergantung oleh Google dan trik-trik pemasaran itu belaka. Bagi saya, sebuah blog bisa hidup, tumbuh, berkembang, dan besar semata-mata karena isinya.</p>
<p>Ya, ini soal <em>content</em>. Sekali lagi: <em>content</em>. <span id="more-14"></span></p>
<p>Google memang memiliki mesin-mesin ajaib yang dengan canggihnya mampu menemukan, mengangkat, ataupun menampilkan blog kita dalam sederet hasil pencarian tanpa kita perlu melakukan apapun, kecuali membuat content yang bagus dan kode-kode blog yang rapi.</p>
<p>Sejauh pengetahuan saya, kita memang bisa mengakali Google atau memanfaatkan trik-trik tertentu. Tapi tanpa content, blog kita pasti akan menjadi kuburan. Kesepian tanpa pengunjung.</p>
<p>Mesin pencari menemukan blog kita karena ada tulisan yang mengandung kata-kata yang dicari. Kalau kita tak mencantumkan kata kunci tertentu dan referensi tertentu ke dalam sebuah content, mesin pencari tak bakal menampilkan blog kita ke dalam hasil pencarian, meskipun kita jagoan main Google Game.</p>
<p>Begini aturan mainnya. Kita memberi kata kunci yang tepat dan para pengelana Internet akan menemukan kita. Kita membuat sesuatu, pada suatu hari mereka pasti akan datang. Ini hanya soal waktu. Memang ada semacam kompetisi, dengan blog lain, tapi suatu saat kita pasti &#8220;kebagian&#8221; juga.</p>
<p>Para pengelana jagad digital mendarat di blog kita untuk mencari tahu apa yang sudah kita buat dan akan kita kembangkan. Tinggal kita siap memberi mereka sesuatu atau tidak.</p>
<p>Mereka akan membaca halaman About dan <em>post categories</em>, juga <em>most popular</em>, <em>most recent</em> dan <em>related posts</em>, untuk mengikuti apa yang sudah kita tulis. Mereka ingin tahu apakah semua tulisan itu berguna buat mereka dan layak diikuti terus, baik lewat RSS feed maupun kunjungan langsung.</p>
<p>Masalahnya, apakah kita memiliki content blog yang memenuhi keinginan pengunjung? Apakah isi blog kita terfokus dan terspesialisasi pada informasi tertentu?</p>
<p>Jika ya, pengunjung pasti akan rutin berkunjung. Mereka bakal datang dan datang kembali. Bukan tak mungkin mereka juga akan berlangganan melalui fasilitas RSS. Tugas kita adalah membuat mereka gampang datang lagi.</p>
<p>Semua itu berkat content &#8212; yang ditulis dengan baik, gampang ditautkan, berkaitan dengan content lain. Bukan lantaran trik, taktik, atau akal-akalan semata.</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Yang+penting+isi%2C+bukan+akal-akalan&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F02%2F16%2Fyang-penting-isi-bukan-akal-akalan%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/16/yang-penting-isi-bukan-akal-akalan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Maaf, saya tak bisa memenuhi keinginan semua orang</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/maaf-saya-tak-bisa-memenuhi-keinginan-semua-orang/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/maaf-saya-tak-bisa-memenuhi-keinginan-semua-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 12:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[keinginan]]></category>

		<category><![CDATA[orang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/maaf-saya-tak-bisa-memenuhi-keinginan-semua-orang/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mas, saya pengen semua orang datang ke blog saya. Bagaimana caranya?&#8221;
&#8220;Waduh. Ini permintaan berlebihan, menurut hemat saya. Kenapa? Karena saya juga ndak mau SEMUA orang datang ke sini &#8212; entah karena kesasar atau karena iseng-iseng belaka.&#8221;
&#8220;Loh kok gitu, Mas? Kenapa?&#8221;
&#8220;Saya bikin blog ini bukan untuk menarik perhatian semua orang. Saya hanya ingin berbagi dengan mereka [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Maaf, saya tak bisa memenuhi keinginan semua orang", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/maaf-saya-tak-bisa-memenuhi-keinginan-semua-orang/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mas, saya pengen semua orang datang ke blog saya. Bagaimana caranya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Waduh. Ini permintaan berlebihan, menurut hemat saya. Kenapa? Karena saya juga ndak mau SEMUA orang datang ke sini &#8212; entah karena kesasar atau karena iseng-iseng belaka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh kok gitu, Mas? Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya bikin blog ini bukan untuk menarik perhatian semua orang. Saya hanya ingin berbagi dengan mereka yang membutuhkan informasi yang ada di sini. Saya kepengen orang datang ke sini karena mereka memang mau mencari sesuatu yang dibutuhkan. Bukan karena tak sengaja atau karena kesasar.</p>
<p>Saya ndak pernah berharap ada orang yang sebetulnya mau mencari informasi, misalnya, tentang desain rumah, tip merawat Anthurium, memelihara kucing, atau topik lain yang ndak berhubungan dengan blog ini, tapi malah keblasuk ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lah, terus sebetulnya siapa yang sampean harapkan datang ke sini, Mas?&#8221; <span id="more-13"></span></p>
<p>&#8220;Saya berharap mereka yang datang ke sini adalah mereka yang memang hendak belajar soal blog, atau tentang interaksi sosial di Interent. Saya ingin kedatangan para pengunjung yang penasaran soal tulis-menulis atau cara berkomunikasi yang mengasyikkan.</p>
<p>Pendeknya, saya cuma menginginkan orang-orang yang memang dapat saya penuhi kebutuhannya melalui blog ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, sampean nggaya dong, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan nggaya. Tapi ini yang disebut fokus. Lagi pula, saya toh ndak bisa menyenangkan semua orang. Saya ndak bisa memenuhi kebutuhan semua orang. Kemampuan dan kompetensi saya terbatas.</p>
<p>Ketika sampean mulai membangun sebuah blog, sebetulnya sampean sedang membangun komunitas orang-orang yang satu pemikiran. Sampean memiliki apa yang mereka butuhkan dan mereka membutuhkan sesuatu yang sampean punyai. Sampean memberi, mereka menerima, dan sebaliknya.</p>
<p>Seandainya sampean menginginkan saya menjadi pembaca blog sampean, ya berikan apa yang saya butuhkan. Sederhana, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sik, sik &#8230; saya pikir-pikir dulu deh, Mas&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Silakan, hehehe&#8230;. &#8220;</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Maaf%2C+saya+tak+bisa+memenuhi+keinginan+semua+orang&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F02%2F11%2Fmaaf-saya-tak-bisa-memenuhi-keinginan-semua-orang%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/maaf-saya-tak-bisa-memenuhi-keinginan-semua-orang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merawat blog, menarik pengunjung</title>
		<link>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/merawat-blog-menarik-pengunjung/</link>
		<comments>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/merawat-blog-menarik-pengunjung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 07:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ndoro Kakung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[anthurium]]></category>

		<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<category><![CDATA[isi]]></category>

		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/merawat-blog-menarik-pengunjung/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mas, mas &#8230; saya mau tanya. Saya sudah punya blog, tapi kenapa orang jarang datang ya? Ada memang yang pernah datang, satu-dua, tapi kenapa mereka nggak mau datang lagi ya?&#8221;
&#8220;Begini, Ki Sanak. Nge-blog itu bukan cuma urusan menarik orang datang. Nge-blog itu persoalan merawat.&#8221;
&#8220;Merawat. Kok terdengar seperti kalau kita punya tanaman atau hewan, Mas?&#8221;
&#8220;Memang. Seperti [...]<script type="text/javascript">SHARETHIS.addEntry({ title: "Merawat blog, menarik pengunjung", url: "http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/merawat-blog-menarik-pengunjung/" });</script>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mas, mas &#8230; saya mau tanya. Saya sudah punya blog, tapi kenapa orang jarang datang ya? Ada memang yang pernah datang, satu-dua, tapi kenapa mereka nggak mau datang lagi ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini, Ki Sanak. Nge-blog itu bukan cuma urusan menarik orang datang. Nge-blog itu persoalan merawat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Merawat. Kok terdengar seperti kalau kita punya tanaman atau hewan, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang. Seperti yang pernah saya ceritakan, blog itu seperti Anthurium, kudu dirawat. Bila perlu setiap hari. Saya juga begitu kok, Ki Sanak.</p>
<p>Saya kerap mencari tahu apa yang harus dilakukan para blogger agar memiliki pembaca reguler. Apa sebetulnya yang membuat seorang pengunjung datang dan datang kembali ke sebuah blog?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas apa kesimpulan sampean apa, Mas?&#8221; <span id="more-12"></span></p>
<p>&#8220;Percakapan. Pengunjung blog itu manusia. Manusia senang bercakap-cakap. Jadi buatlah tulisan yang mengajak pengunjung bercakap-cakap. Buatlah mereka merasa terlibat.</p>
<p>Bila mereka meninggalkan komentar di sebuah posting, jangan dibiarkan. Sempatkanlah untuk membalas komentar mereka. Bikinlah sebuah relasi antara sampean dan para pengunjung. Dengan cara ini, sampean mendorong pengunjung untuk datang dan datang kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada lagi, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sampean memang seorang pemilik blog, dan sampean mengira boleh mengisinya suka-suka tanpa mempedulikan orang lain. Wah, sebaiknya jangan egois begitu. Tanpa pengunjung, blog sampean itu tak ada artinya.</p>
<p>Berilah para pengunjung apa yang mereka butuhkan. Kalau sampean belum bisa memenuhinya, dengarkan saja keinginan mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm &#8230; cukup oke, Mas. Ada yang lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang soal isi. Buatlah posting yang bermanfaat buat pengunjung. Ini salah satu cara untuk membuat mereka kembali. Sampean juga bisa membuat posting serial, bersambung. Tapi, jika sampean hendak membuat posting bersambung, umumkanlah. Buatlah pengunjung mengetahui dan menunggu posting sambungannya.</p>
<p>Kalau bisa, buat juga blog yang unik. Sesuatu yang khas juga akan membuat datang lagi karena pengunjung tak mendapatkannya di tempat lain.</p>
<p>Blog yang unik itu bisa dari isinya, pengisinya, atau cara penyajiannya loh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh gitu ya. Makin menarik ini, Mas. Lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sering-seringlah memberi pengunjung kejutan. Tiga hari sekali atau sepekan sekali. Buatlah posting yang lain daripada yang lain agar pengunjung merasa selalu mendapatkan yang baru. Kejutan membuat mereka penasaran &#8212; dan datang lagi.</p>
<p>Jangan lupa, sampean harus membuat pengunjung nyaman di blog. Jangan sampai blog sampean, misalnya, memusingkan pengunjung dengan warna yang susah dibaca atau desain yang amburadul. Buatlah acara <em>mengunjungi blog</em> sampean itu sesuatu yang menyenangkan dan membuat pengunjung kecanduan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waaaah &#8230; mantap, Mas. Mbesuk-mbesuk boleh tanya lagi, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja,  silakan.&#8221;</p>
<p><a href="http://sharethis.com/item?&wp=2.5.1&amp;publisher=8e5b11ae-3864-4f50-ab1c-23564ac6b9b5&amp;title=Merawat+blog%2C+menarik+pengunjung&amp;url=http%3A%2F%2Fndorokakung.dagdigdug.com%2F2008%2F02%2F11%2Fmerawat-blog-menarik-pengunjung%2F">ShareThis</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndorokakung.dagdigdug.com/2008/02/11/merawat-blog-menarik-pengunjung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
