Posting saya kok nggak dikomentari?

blog

Bayangkan begini, Ki Sanak. Sampean sudah capek-capek menulis sesuatu, lalu menayangkannya di blog. Kemudian seseorang mengirimkan tautan posting itu ke situs pertukaran tautan seperti Digg, StumbleUpon, dan FriendFeed.

Tanpa dinyana, arak-arakan pengunjung berdatangan dan mengomentari posting itu, bukan di blog sampean, melainkan yang ditaruh di Digg, Mixx, atau FriendFeed itu. Sedangkan di blog sampean sendiri, posting itu tak ada yang mengomentari barang satu patah kata pun.

Bagaimana rasanya? Sakit hati? Cuek? Bagaimana pula rasanya jika sampean menjadi pembaca yang melihat kejadian seperti itu?

Saya maklum dan memahami jika sampean kesal hati. Kolom komentar memang bagian yang menyenangkan dari aktivitas ngeblog. Komentar pembaca, misalnya, bisa membuat seorang blogger terpacu menulis lagi. Komentar kadang juga menghibur pembaca lain, dan akan membuatnya datang lagi.

Blog yang miskin komentar bisa diartikan juga miskin pengunjung. Orang bisa salah mengira blog sampean tak populer hanya karena memiliki sedikit komentar.

Jangan sedih, Ki Sanak. Lihatlah dari perspektif lain. Saya dulu juga pernah begitu, sedih kalau posting saya tak ada yang mengomentari, sampai suatu hari saya bertemu seorang kawan yang arif bijaksana.

Menurut dia, blog yang bagus tak selalu panen komentar. Blog yang bagus itu yang isinya membuat orang tergugah, memberi inspirasi, membuat orang berpikir, dan seterusnya.

Tapi, pemilik blog tak perlu memaksa pengunjung memberi komentar di bawah setiap posting. Komentar itu tak harus diterakan pada sebuah posting. Sebuah posting yang bagus, dan memicu kontroversi, kadang justru tak perlu diberi komentar.

“Loh kenapa?” tanya saya waktu itu.

“Sampean pernah menonton film di bioskop kan? Apa yang sampean lakukan bila filmnya bagus? Sibuk berkomentar ketika film tengah diputar atau melakukan diskusi setelah sampean pulang dan bertemu kawan-kawan?

Kecuali sampean mau dimaki tetangga duduk di sebelah, sampean pasti baru membicarakan film yang bagus setelah keluar dari bioskop. Saya yakin sampean juga tak mengoceh sendiri ketika film masih berlangsung,” jawab kawan saya.

Begitu juga dengan blog. Sebuah posting yang bagus, yang bisa menginspirasi orang — menurut hemat saya — justru tak perlu dikomentari langsung di bagian bawahnya. Lebih baik kita membiarkan orang bertanya-tanya dan membicarakan posting itu di luar blog tanpa perlu meninggalkan komentar.

Makin banyak orang membahasnya di kafe, di sekolah, di tempat kerja, di kantor, di lapangan, juga tempat-tempat lain, berarti sebetulnya popularitas dan pengaruh posting itu sangat dahsyat.

Jadi sampean jangan terlalu sedih kalau postingnya sepi komentar, Ki Sanak! Ingat saja pengandaian tentang film yang bagus di bioskop itu.